Pengalaman Pertama


Aku sebenarnya bukanlah seorang “indigo” sebutkan untuk orang-orang special yang bisa melihat sesuatu yang tidak bisa dilihat oleh orang kebanyakan. Karena memang di keluargaku tidak ada yang memiliki kemampuan seperti itu. Tapi terkadang aku bisa merasakan atau bahkan melihat sesuatu yang seharusnya tidak terlihat. Ini sudah terjadi sejak aku masih kecil dan sampai saat ini.  Dari cerita-cerita orang tuaku, aku sering memberitahu mereka jika aku melihat atau mendengar sesuatu yang orang tuaku dan orang lain tidak mendengarnya. Awalnya orang tuaku mengira itu hanya khayalanku saja namanya juga posisi aku masih kecil. Sampai akhirnya, ketika aku berumur 9 tahun ketika itu aku masih duduk di kelas 4 SD, kejadian ini masih sangat membekas dan mungkin tidak akan pernah aku lupakan. Seperti ini kejadiannya, sore itu aku seperti biasanya ngaji di masjid bareng teman-teman. Selesai ngaji kita biasa maen sampai menjelang waktu maghrib karena memang kita mengaji di masjid jadinya sekalian sholat maghrib kemudian kita akan pulang ke rumah masing-masing ba’da maghrib. Nah hari itu teman-temanku mengajak bermain petak umpet, ketika itu aku hanya bermain bersama 5 orang temanku, kita seru nih maen petak umpet bergantian jaga dan lainnya sembuyi, sampai akhirnya pada giliranku jaga dan kemudian mencari keempat temanku yang bersembunyi. Tiga temanku sudah ketemu nih Cuma tinggal 1 temanku yang belum ketahuan tempat sembunyinya sebut saja namanya Awan. Karena waktu sudah hamper maghrib juga dan mulai gelap kami bertiga akhirnya memutuskan untuk mencari Awan bersama-sama, kami panggil-panggil dia
   “Awan….” Panggil kami bertiga bersaut-sautan.
   “Udahan yuk, udah mau magrib nih nanti dimarahi pak kyai” Kata temanku
  “Iya, udah gelap, emang kami gak takut? Habis ini kita udahan kok jadi kami gak jaga.” Kataku
  “Awan” kita bertiga teriak semakin kecang, berharap si Awan mendengar.
Tetap saja tidak ada jawaban, dan si Awan juga tidak muncul-muncul. Sampai akhirnya azan maghrib berkumandang.
“Eh mungkin Awan udah balik ke rumahnya, dari tadi kita panggil juga gak ada jawaban” kataku
“ Iya mungkin kayak dulu kita capek nyariin dia eh taunya udah enak makan es krim di depan rumah” kata temenku
“Iya iya, dia kan emang jahil. Awas aja besuk kita jahilin balik yuk,” temenku menimpali sambal tertawa.
Kita bertiga pun akhirnya ke masjid, sholat dan pulang ke rumah masing-masing.
Nah sampai akhirnya sekitar jam 7.30 malam ibunya Awana datang ke rumahku menanyakan apakah awan masih maen di tempatku, karena ternyata Awan belum pulang sejak petak umpet tadi sore. Mengetahui Awan tidak ada juga di rumahku maupun teman-teman lainnya, mulailah Ibunya Awan panik nyariin si awan. Tetangga dan orang tua ku juga ikut mencari bersama warga lainnya. Sampai larut malam Awan belum juga ditemukan. Aku pun diajak ibuku untuk kembali ke rumah.
Malam itu aku bermimpi bertemu dengan Awan. Dia masih berada di tempat kita main petak umpet tetapi dia ada di atas pohon duku yang memang ada di kebun samping lapangan tempat kita main. Di mimpi itu aku dan teman-teman yang lain sedang mencari awan, sama persis dengan kita lakukan sore tadi, teriak-teriak memanggil namanya. Awan mendengar teriak kita, dia menjawab,
“Tolong, aku di sini, di atas gak bisa turun” jawab dia
Tapi tidak ada satupun yang mendengar suara awan. Awan terus menerus teriak memanggil satu per satu dari kita tapi tetap tidak ada yang mendengar. Sampai akhirnya, dari belakang tubuh Awan ada tangan hitam berkuku panjang, perlahan memegangi awan dan perlahan juga menunjukkan wajahnya yang menakutkan. Saat itu aku terbangun dari tidur.
Sampai keesokan harinya Awan belum juga ditemukan. Aku, tara, dan nisa (kedua temanku yang kemarin maen petak umpet bareng) sepulang sekolah kembali ke tempat dimana kita bermain kemarin. Aku belum cerita kepada siapapun mengenai mimpiku semalam. Aku tanpa ragu menuju ke pohon duku, di situ aku panggil-panggil awan. Tapi memang iya aku sama sekali tidak melihat awan atau apapun. Temanku pun bertanya,
“ kamu ngapain disitu? Gak ada siapa-siapa disitu” kata temanku
“Aku semalem mimpi Awan di atas situ, minta diturunin dia gak bisa turun” kataku
Sesaat setelah aku bilang seperti itu, benar saja aku melihat Awan ada di situ dan sama persis dengan ada di mimpiku ada tangan dari arah belakang pundak Awan, dan benar saja dari balik tubuh awan muncul sesosok mengerikan. Tanpa pikir panjang aku langsung lari sekencang-kencangnya
Kedua temanku yang tadi bersamaku kebingungan melihat aku tiba-tiba teriak dan langsung lari. Mereka berlari menyusulku pengen tahu apa yang terjadi denganku. Sampai di rumah, Aku bilang ke bapak kalua aku melihat awan di atas pohon duku dipegangin nenek-nenek menakutkan, seketika itu juga bapakku langsung ke rumah Awan, saat itu aku tidak paham apa yang bapak lakukan. Aku hanya melihat bapakku dan  bapak ibunya Awan tergesa-gesa pergi ke arah masjid. Beberapa saat kemudian ada siaran di masjid yang meminta warga untuk berkumpul di halaman masjid dan membawa apapun peralatan rumah tangga. Aku Tanya ke ibuku memangnya kenapa kok orang-orang disuruh berkumpul dan membawa alat dapur. Ibu Cuma menjawab “ sudah kami di rumah saja sama ibu, mereka sedang mencari Awan” Aku Cuma mengganguk saja. Aku disuruh tidur di kamar karena memang waktu sudah cukup malam, sekitar pukul 8 kalau tidak salah. Akupun tertidur sampai pagi.
Keesokan paginya aku bertanya kepada orang tuaku apakah Awan sudah ketemu. Bapak ku menjawab,
“Iya sudah ketemu, sekarang sedang istirahat di rumahnya. Nanti kalua kamu mau jenguk sama bapak saja ya.” Kata bapakku
“Memangnya Awan dari mana kok lama perginya” tanyaku
Akhirnya bapak bercerita ternyata yang aku lihat di atas pohon duku itu benar Awan dan nenek menakutkan itu adalah sejenis hantu yang biasa di sebut “kolong wewe”, dia suka menculik anak-anak dan anak-anak yang diculik baru akan ditemukan jika diperdengarkan bunyi-bunyi alat dapur. Dan lebih tragisnya anak-anak korban peculikan akan dalam keadaan tidak sadar/linglung.
Di daerah tempat tinggalku percaya tidak percaya masih banyak makhluk sejenis itu dulu. Dan sejak saat itu orang tua mulai percaya dan “over protective” denganku jika menyangkut hal-hal tersebut.
Itu pertama kalinya aku bisa melihat makhluk tak kasat mata, walaupun tidak jelas penampakannya.

Comments

Popular Posts