Manusia Biasa



Aku hanya manusia biasa yang sama saja sepertimu. 
Aku pun tak selalu tegar, ada keadaan dan beberapa kejadian yang membuat semangatku down. 
Aku pun pernah  menangis karena tak tahu harus berbuat apa. 
Bahkan, terkadang aku merasa tak terima. 
Pernah juga terpikir olehku ingin rasanya mengintip takdir, agar hidup bisa lebih terencana. 
Agar bisa memastikan ke depannya. 
Menengok sekejap seperti apa nanti dan bagaimana, atau dengan siapa aku akan bersama dan akan seindah apa.

Aku pun pernah ada di posisi kecewa dan merasa tidak terima dengan apa yang terjadi. 
Marah dan berusaha mengingkari kenyataan yang tersaji. 
Tapi yang kudapat saat itu hanya lelah, lelah dan semakin lelah. 
Nyatanya, keadaan tak berubah. 
Bahkan semakin parah karena aku merasa teramat payah.

Dan kemudian aku pasrah daripada melawan kenyataan dan tidak bisa. 
Aku memaksa diri untuk ikhlas menerima  semua rasa pedihnya, ku coba untuk menikmatinya. 
Ibarat terluka, ku bebat kuat luka itu agar tak lagi mengalir darahnya. 
Kemudian, aku bisa dan mampu menyudahinya. 
Memang sulit dan juga teramat sakit pada awalnya, tapi itu akan berangsur-angsur hilang seiring dengan berjalannya waktu. 
Sampai akhirnya, sakit itu tak kurasakan lagi. 
Aku sanggup berdiri dan menapaki hidupku kembali, sampai sekarang ini.

Aku selalu mencoba “bersahabat” dengan rasa kecewa, menerima kenyataan yang ada dihadapanku. Termasuk saat aku merasa tidak berguna, aku berkata pada diriku sendiri bahwa tak apa rasakan kesedihannya, luapkan dukanya bukan dengan emosi tapi dengan doa dan memasrahkan diri pada illahi Robbi. 
Nikmati prosesnya, hingga nanti tiba waktunya hati merasa lega dan bisa berkata “tidak apa-apa”. Ketika itu terjadi, artinya aku sudah siap untuk kembali menjalani episode dan tahapan hidup yang selanjutnya.

Dari semua itu aku sadar, bahwa hidup memang teka-teki yang harus kita pecahkan dengan usaha, doa serta kesungguhan. 
Allah menyimpan takdir manusia untuk sebuah kejutan dan hadiah istimewa bagi yang mampu menjalani hidup dengan kesabaran. 
Kita manusia harus percaya dan bisa terus berbaik sangka. 
Bahwa bila kita taat pada Allah, berdoa pada-Nya dan sungguh-sungguh berusaha, maka Allah akan memberikan kehidupan yang indah dan bahagia.

Namun beberapa orang seringkali terlalu takut menghadapi kenyataan. 
Takut akan hal-hal yang tak terprediksi dan tak menyenangkan. 
Hingga terkadang tak berani menyatakan apa yang sedang ia rasakan dan lebih memilih diam walaupun tahu tentang sebuah kesalahan yang menyakitkan. 
Tak berani memutuskan untuk pergi dan memilih bertahan walau menyesakkan, atau tak mau mengambil keputusan “melawan” dan malah mengikuti arus lalu akhirnya “tenggelam”. 
Bila seperti itu, sebenarnya dia sedang menyakiti dirinya sendiri. 
Yang dilakukannya adalah wujud dari putus asa yang ditutup-tutupi. 
Seperti benar padahal salah. Seperti baik padahal buruk.

Hidup adalah rangkaian cerita perjalanan kita yang penuh warna. 
Gelap, terang, hitam, putih, suka, duka, dan banyak yang lainnya. 
Episode per episode harus kita lalui walau terkadang berat dirasa. 
Mengertilah, setiap hal yang dihadirkan Allah bertujuan untuk membuat kita lebih kuat dari yang sebelumnya. 
Jangan menggerutu, bahkan berburuk sangka terlebih dahulu jika keadaan tidak sesuai dengan harapanmu, bukan berarti tidak ada kebaikan. 
Mencoba merubah cara pandang dan mencari sisi yang bisa menumbuhkan rasa syukur itu jauh lebih baik. 
Karena sesungguhnya, bukan tanpa alasan Tuhan menghadirkan sesuatu. 
Percayalah ada hikmah yang indah sebagai hadiah kesabaran.

Waktu tak bisa diputar kembali, tak bisa diatur ulang. 
Yang sudah terlanjur terjadi tak akan bisa kita batalkan dan diulangi lagi. 
Sekarang tergantung pada diri kita. 
Mau terus diam dan tenggelam dengan meratapi yang berlalu atau bangkit, membaik dan meneruskan hidup? 
Renungkan semua yang sudah terjadi. 
Pilah dan pilihlah yang baik untuk diteruskan dan pisahkan yang salah kemudian perbaiki. 
Belajar dari kesalahan yang lalu dan menjadi lebih baik lagi di hari esok adalah salah satunya cara  memperbaiki masa lalu.

Mulailah untuk berfikir positif, kurangi berpikir negatif yang ada dalam diri. 
Mencoba lebih menghargai diri sendiri, mulai mensyukuri atas apa yang ada dan sudah Tuhan berikan. 
Mencoba memahami bahwa melakukan kesalahan bukanlah hinaan. 
Sadari itu dan jadikan kesalahan itu sebagai bagian dari pembelajaran.

Jangan pernah lupa untuk menyadari bahwa hidup harus selalu disyukuri. 
Menempatkan diri pada posisi dimana harus bisa tetap baik dalam menyikapi apapun yang terjadi. Dengan cara menjadi pribadi yang jauh lebih baik. 
Mengingatkan sampai benar-benar dapat menerima segala ketentuan-Nya. 
Menyadari dan memantaskan diri agar menjadi seseorang lebih baik tak hanya di mata sesama manusia tetapi juga di mata sang Pencipta. 

Karena kehidupan terindah adalah hidup yang dijalani dengan mengikuti aturan-Nya. 
Termasuk cinta yang terindah akan dirasa bila mendapatkan ridho-Nya. 
Walaupun harus menunggu dengan sabar, entah itu dalam menunggu hadirnya jodoh yang sesuai dengan petunjuk-Nya. 
Namun percayalah semua itu akan sepadan dengan hasil yang dirasa. 
Sementara itu, teruslah berdoa apapun yang kita dambakan akan teralisasikan dan berbonus bahagia.




















Comments

Popular Posts